Bagikan!


Minggu, 27 Agustus 2017

Begini, Pola Bagi Hasil 212 Mart Bojong Kulur




Diprioritaskan, 62,5 persen untuk investor 212 Mart Bojong Kulur.

Awal peresmian, 212 Mart Bojong Kulur, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat sukses meraih omzet Rp 76 juta, tepatnya pada Minggu, 6 Agustus 2017 lalu. Omzet stabil pun terus dicetaknya.

”Alhamdulilah omzet 212 Mart Bojong Kulur tetap stabil  di atas Rp 10 juta perharinya. Omzet untuk ukuran bulan tua bagus ya,” kata General Manager Kita Mart dan 212 Mart Bojong Kulur, Puarman Kahar kepada Koperasi Syariah 212, dihubungi Kamis (24/8).

Terkait bagi hasil untuk investornya, Puarman menjelaskan,  karena 212 Mart ini di bawah payung hukum Koperasi Sejahtera Bersama Syariah (SBS), maka dalam koperasi itu pembagian keuntungannya di sebut dengan Sisa Hasil Usaha (SHU).

Nah, kata Puarman, saat SHU sudah mencapai 100 persen.  Maka dari 100 persen itu, sesuai aturan, 20 persennya dipakai untuk cadangan modal berikutnya atau pengembangan usaha. Lalu, sekira 5 persen dikeluarkan sebagai sedekah untuk yatim dan dhuafa.

Porsi Terpenting untuk Anggota
Selesai itu, lanjut dia, baru dipisahkan untuk anggota, sebesar 62, 5 persen dibagikan untuk anggota. Dengan rincian, untuk pengurus dan karyawan sebesar 5 persen, diklat seperti pendidikan, seminar, dan pelatihan pengurus sebesar 3 persen. Adapun untuk syiar Islam sekira 2,5 persen.

”Syiar Islam, maksudnya, saat pendirian Kita Mart maupun 212 Mart,  kan (kami –red) banyak minta bantuan kepada ustad-ustad. Nah, pada saatnya, jangan lupakan para ustad itu,” kata Puarman mengungkapkan.

Kemudian yang terakhir, kata Puarman, adalah pembangunan daerah kerja sekitar 2 persen. Ini bisa diartikan dana sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).

Namun demikian, ditegaskan Puarman,  poin yang paling penting adalah yang untuk anggota sebesar 62,5 persen. Porsi itu dibagi dua lagi, yakni 37,5 persen dibagikan berdasarkan penyertaan modal. Kalau modal penyertaan jamaah itu sama sebesar Rp 1 juta, maka semuanya mendapatkan hasil yang sama.

Rajin Belanja, SHU Lebih Besar
Kemudian yang 25 persennya lagi, itu dibagikan berdasarkan aktivitas anggota berbelanja. Maksudnya, antara anggota yang aktif berbelanja di 212Mart Bojong Kulur dan yang kurang aktif akan berbeda hasilnya.

Untuk menilai seorang anggota aktif atau tidak berbelanja, sistem komputernya sudah mendukung. Baik di Kita Mart maupun 212 Mart Bojong Kulur, anggota tinggal menyebutkan nomor anggotanya saja pada saat transaksi di kasir. ”Nah, transaksi dia selama setahun akan terekam dengan baik. Itu akan memengaruhi SHU-nya di akhir tahun,”  kata Puarman menjelaskan.

Jadi intinya, tambah dia, adalah harus ada porsi aktivitas belanja yang dimasukkan dalam penghitungan SHU. Karena ruhnya koperasi adalah keterlibatan aktif anggota di dalamnya, tidak sekadar menanamkan modal. Karena kalau sekadar menanamkan modal itu, namanya bukan koperasi, tapi perusahan atau PT.

Sejak awal dirinya mengakui, juga sering mengingatakan bahwa investor itu tidak hanya sekadar menanam modal. Menurutnya, investor itu punya tiga peran. Pertama, dia sebagai pemilik toko, kedua dia sebagai konsumen, dan ketiga sekaligus sebagai pemasar toko. ”Itulah rahasia kami yang membedakan si merah dan si biru, tetangga,” ujar Puarman.

Puarman mengakui bahwa dalam kekuatan modal si merah dan si biru tak terkalahkan, begitu juga dalam hal distribusi. Mereka sangat menguasai jaringan distribusi dari hulu ke hilir.

”Itu kekuatan mereka yang susah kita tandingi. Tapi ada kekuatan yang tidak mereka punya yaitu kekuatan berjamaah, hanya ada di umat Muslim. Dengan berjamaah peran tiga investor itu terpenuhi,” ungkapnya.

Apakah sama di tiap 212Mart? Pola penghitungan bagi hasil akan berbeda di tiap gerai, tergantung pemilik dan pengurusnya yang biasanya punya pandangan berbeda. Untuk Bojong Kulur sendiri, kebijakan sharing economy-nya seperti itu.

Tidak masalah berbeda, yang penting visinya sama untuk membangkitkan ekonomi umat. Dan anggota itu tidak hanya modalnya saja tapi juga harus keaktifannya di toko tersebut. Untuk itulah, yang ideal sebaiknya investor itu diutamakan investor lokal, sehingga rasa memiliki toko itu besar dan begitu juga keaktifan belanjanya.

Studi Banding ke Bojong Kulur
Tapi lanjut dia, kalau seandainya ada orang luar daerah Bojong Kulur ikut bergabung di Kita Mart atau 212 Mart Bojong Kulur, biasanya orang luar yang mempunyai interaksi dengan Bojong Kulur. Misalnya, kata Puarman, orang itu berangkat kerja lewat Bojong Kulur atau mertuanya tinggal di Bojong Kulur sehingga sering berkunjung.

Bisa juga, orang luar Bojong Kulur yang juga tak sering ke Bojong Kulur diterima datang di 212Mart. Hal ini menurut Puarman bukanlah terkait penyertaan modal, tapi diterima sebagai syiar saja. Dengan harapan, mudah-mudahan mereka bisa memotivasi untuk menggerakkan di wilayah masing-masing.

”Alhamdulilah sudah terbukti, 197 orang lebih yang studi banding di Kita Mart dan 212 Mart, dan mereka banyak yang menjadi penggerak di wilayahnya maisng-masing, mendirikan 212 Mart. Jadi yang kita ambil dari mereka adalah syiarnya, bukan uangnya,” pungkas Puarman.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Grand Opening, 212 Mart Semarang Raup Omzet Rp 13 Juta Lebih

Tidak ada target khusus, berapapun omzet 212 Mart Semarang saat grand opening akan disyukuri karena itu berkah dari Allah SWT. Ger...

Artikel Populer