Bagikan!


Rabu, 16 Agustus 2017

Ekonomi Harus Dikuasai Umat, Bukan Konglomerat!




Ekonomi nasional harus ditopang kuat oleh ekonomi umat, bukan oleh segelintir konglomerat.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin mengatakan, ekonomi syariah pada hakikatnya merupakan perekonomian yang mengedepankan perilaku dan aktivititas manusia yang sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Islam. “Yaitu, kesadaran akan kepemilikan harta secara absolut milik Allah SWT,  adil dalam berusaha dan konsumsi, kerjasama dalam kebaikan, dan keseimbangan dalam pertumbuhan,” ujar Ma’ruf pada Diskusi Panel “Peran Ekonomi Syariah Menuju Arus Baru Ekonomi Indonesia”, di Gedung Bank Indonesia (BI), Jakarta, Senin (24/7/2017)

Namun, Ma’ruf mengakui bahwa  upaya untuk mendorong dan memperbesar sektor ekonomi syariah di Indonesia bukanlah langkah yang mudah. Meskipun  peletakan dasarnya telah dilakukan dengan baik, seperti regulasi, fatwa terkait produk, jasa dan akad, infrastruktur lembaga keuangan dan bisnis syariah, sumber daya insani, dan masyarakat.

Oleh karena itu,   sebagaimana  yang telah dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi)  pada Kongres Ekonomi Umat pada April 2017 yang lalu, bahwa ekonomi syariah dapat menjadi arus baru ekonomi Indonesia yang mampu mendorong pengembangan ekonomi secara menyeluruh dan mendorong kemitraan/kerjasama antara pengusaha besar dan pengusaha kecil.

MUI mencatat bahwa era baru ekonomi Indonesia ini ditandai dengan hadirnya tiga hal utama, yaitu lahirnya Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang dipimpin langsung oleh Presiden Jokowi. “Insya Allah KNKS  besok akan dilaunching tanggal 27 Juli 2017,” ujar Ma’ruf.

Hal kedua, adalah pencanangan Jakarta sebagai Pusat Ekonomi dan Keuangan Syariah Dunia, dan ketiga arus baru ekonomi Indonesia yang didukung oleh ekonomi syariah.Tentu saja, kata Rais Am PBNU ini,  hal-hal terkait dengan dengan upaya pencapaian pencanangan tersebut, baik terkait dengan peraturan maupun kebijakan lainnya, saat ini tengah dilakukan pembenahan-pembenahan. Bukan hanya sektor keuangan syariah saja yang dilakukan pembenahan tetapi juga pada sektor lainnya termasuk sektor bisnis dan wisata syariah.Arus baru ekonomi Indonesia ini juga merupakan momentum perubahan paradigma ekonomi yang semula lebih banyak menggunakan pendekatan dari atas ke bawah (top-down).

“Maka di waktu mendatang akan lebih di dorong pendekatan dari bawah ke atas (bottom up). Oleh karena itu, ke depan ekonomi nasional harus ditopang kuat oleh ekonomi umat, bukan seperti sebelumnya yang hanya ditopang oleh segelintir konglomerat,” tukas Ma’ruf.

Hal ini, menurutnya, telah diluncurkan dalam Kongres Ekonomi Umat pada 22-24 April 2017 lalu di Hotel Grand Sahid, Jakarta. Karena ekonomi umat ini mengalami pelemahan-pelemahan belum ada penguatan.Oleh karena itu kebijakan yang diarahkan pendekatan dari atas ke bawah (top-down) supaya melahirkan konglomerat, kemudian nanti akan menetes kebawah.

“Ternyata tidak netes-netes. Itu harus dirubah sekarang, dan harus dibangunkan yang dibawah, bukan yang dari atas dikebawahkan.Tapi yang dari bawah di keataskan. Sehingga Presiden mengatakan kita bangun ekonomi ini dengan kebijakan redistribusi aset dan kemitraan,” ungkap Ma’ruf.

Kemitraan itu, kata Ma’ruf, sekarang sedang dijalankan yaitu kemitraan antara konglomerat dan masyarakat dengan pondok pesantren serta dengan berbagai komuditi, di antaranya minimarket dan kelapa sawit.

“MUI membuat working group-working group dengan para pengusaha untuk mengembangkan ekonomi umat,” ujarnya.

Menurut Ma’ruf, komitmen pemerintah menunjukkan kesungguhan dalam upaya mendorong percepatan tumbuh dan kembangnya ekonomi syariah.Pemerintah secara  intensif membenahi beberapa peraturan perundangan yang dinilai menjadi faktor penghambat kebijakan percepatan tersebut. Upaya percepatan pun telah dilakukan karena pemerintah selalu melibatkan dan berkonsultasi serta berkoordinasi dengan MUI sebelum mengeluarkan suatu peraturan perundang-undangan.

Apabila komitmen pemerintah dapat berjalan dengan mulus, maka dapat dipastikan Indonesia akan menjadi pemain dan sekaligus pasar ekonomi syariah yang memiliki prospek cerah. Ini dikarenakan selain Indonesia menjadi potensial market dengan jumlah penduduk muslim yang besar, juga karena ekonomi syariah memberikan manfaat ekonomi bagi para pelakunya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Grand Opening, 212 Mart Semarang Raup Omzet Rp 13 Juta Lebih

Tidak ada target khusus, berapapun omzet 212 Mart Semarang saat grand opening akan disyukuri karena itu berkah dari Allah SWT. Ger...

Artikel Populer